May 03, 2017

Kartini Movie Review

"Badan boleh terpasung, tapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya."
-R.A. Kartini
Perpaduan sempurna dari fakta sejarah, pameran kebudayaan dan seni, serta rangkaian drama kehidupan seorang perempuan yang berjuang mengejar mimpinya di tengah keterbatasan zaman dan situasi, film Kartini karya Hanung Bramantyo ini patut menyandang gelar film terbaik sepanjang sejarah perfilman Indonesia.
Setidaknya menurut saya.

Bagi yang belum menonton film ini, saran saya:
1. Jangan dulu membaca tulisan saya di bawah ini karena ada beberapa BANYAK 'bocoran' isi film
2. AYO NONTON FILMNYA sebelum turun dari bioskop-bioskop kesayangan anda



Cerita & Tokoh

Cerita dalam film Kartini mengalir sempurna, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Semua adegan dapat dinikmati dengan baik. Berkat penulisan naskah yang bagus, perpindahan antar adegan yang mulus serta tidak bertele-tele, sinematografi yang menawan, serta akting para pemain yang totalitas, penonton dapat dibawa secara visual dan emosional ke masa dimana Kartini (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) tengah merakit sejarah.
Demi memerankan Kartini, akrtis cantik Dian Sastro pun berusaha tampil total di film ini. Ia membaca banyak buku tentang Kartini, belajar logat Jawa dan bahasa Belanda dalam waktu singkat, belajar gerak-gerik dan adat istiadat wanita Jawa kuno, hingga berkunjung ke rumah Kartini dan berziarah ke makam Kartini di Rembang.

Salah satu bukti yang memperlihatkan kelihaian tim di balik film ini adalah adanya adegan yang dibawakan tanpa dialog (contoh: ketika Slamet memberitahu Ngasirah bahwa ayahnya jatuh sakit) namun kental dengan pengambilan gambar, gestur badan dan mimik wajah yang deskriptif sehingga alur cerita tetap mengalir dan penonton tetap dapat menghayati apa yang tengah terjadi.

Penonton juga kerap diajak 'bermain' ke alam pikiran Kartini yang seolah 'terbang' keluar rumah tempat ia dipingit ketika ia sedang membaca buku dan membaca surat dari kakak dan temannya di Belanda. Cara penyampaian yang sungguh indah dan menarik, serta selaras dengan pepatah 'Buku adalah jendela dunia'.

Kalau baru saja menonton film Beauty and the Beast, mungkin penonton akan terbayang kemiripan Kartini dengan Belle yang sama-sama kutu buku dan berani menentang arus. Bedanya, dalam film ini Kartini ditemani oleh kedua adik perempuannya, Kardinah (Ayushita) dan Rukmini (Acha Septriasa).

Kehadiran dua tokoh ini berhasil mengubah citra Kartini di mata saya dari sosok yang 'individualis dan berjuang seorang diri' menjadi 'seorang kakak yang berjuang bersama adik-adiknya dalam susah dan senang'. Menarik sekali melihat Kartini dan adik-adiknya bermain di pantai, memanjat pagar, membatik, memasak, mandi kembang, bercanda dan menangis bersama. Hal ini seolah membuat foto-foto hitam putih yang biasa saya lihat di buku pelajaran mendadak jadi 'hidup' di depan mata, serta membantu 'meringankan' unsur cerita yang 'berat' dalam film ini.

"Perubahan pasti akan terjadi, tinggal siapa yang akan memulai."
-Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (ayah Kartini)
Perjuangan Kartini tak lepas dari peran ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang diperankan oleh aktor senior Indonesia Deddy Sutomo. Tidak seperti kaum pria pada umumnya di masa itu, ayah Kartini ini tergolong pria yang berpikiran terbuka. Ia memperbolehkan Kartini dan kedua adiknya 'keluar sementara dari pingitan' untuk bergaul dan belajar menulis dari Marie Ovink-Soer, salah satu orang Belanda yang berpengaruh besar dalam hidup Kartini.
Selain berpikiran terbuka, ayah Kartini juga digambarkan sebagai sosok yang penuh kasih sayang dalam film ini. Hal ini dapat dilihat dari tatapan, perbuatan dan cara bicaranya pada Kartini. Ia ikut bangga dan senang ketika artikel Kartini dipublikasikan di majalah Belanda, dan bahkan membelikan Kartini meja tulis untuk mendukung bakat dan cita-cita putrinya ini.
Ketika Kartini ingin menulis surat pada pemerintah Belanda untuk mendapat beasiswa pendidikan, sang ayah juga mengizinkan meskipun awalnya beliau ragu karena ditentang banyak pihak. 

"Setiap ibu mesti ingin melindungi dan memberi yg terbaik bagi anak-anaknya."
-Ngasirah (ibu Kartini)
Film yang sarat dengan unsur kekeluargaan ini juga menampilkan Christine Hakim sebagai Ngasirah, ibu kandung Kartini. Akting beliau (seperti juga akting-akting pemain lainnya dalam film ini - dari akting para pelayan sampai dengan Kartini kecil, kebanyakan para pemain di film ini menunjukkan kemampuan akting yang mumpuni) patut diacungi jempol. Ngasirah rela suaminya menikah lagi dengan R.A. Moeryam (Djenar Maesa Ayu), perempuan yang derajatnya lebih tinggi darinya, dengan harapan anak-anaknya bisa sekolah dan "derajatnya bisa lebih tinggi dari ibu". Untuk itu, ia bahkan rela tidak dipanggil 'ibu' oleh anak-anaknya sendiri dan tidur di kamar pembantu.

Ketika Kartini tidak mau menerima lamaran dari seorang bupati yang sudah memiliki tiga istri dan berkeras mau menunggu jawaban dari pemerintah Belanda mengenai proposal beasiswa yang diajukannya, Ngasirah mengajarkan Kartini apa yang tidak mungkin putrinya itu pelajari dari aksara Londo (Belanda), yaitu 'bakti'. Digambarkan dengan cerdas dan indah memakai analogi aksara Jawa 'trinil' dalam film ini, Ngasirah mengatakan, "Manusia, ketika dipangku itu hatinya tentram karena keseimbangannya terjaga. Sepintar-pintarnya Londo itu menguasi dunia, mereka tidak akan pernah mengenal 'pangku'". Bakti atau pangku disini memiliki arti yang kurang lebih 'mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kebaikan orang lain'.

"Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya."
-R.A. Kartini
Di penghujung film, Kartini diperlihatkan sedang memegang pena dan kertas, menghadap kincir angin Belanda. Terus belajar di negeri Belanda demi mengejar cita-citanya, atau menikah dan berbakti pada orang tua? Apapun pilihan Kartini, warisan pahlawan nasional ini akan terus hidup dan dikenang sepanjang masa.


Sarat Budaya

Kalau film-film Ghibli seringkali memamerkan budaya Jepang yang kental, film Kartini juga tak kalah dalam hal tersebut. Berbagai detil budaya Jawa kuno dari bahasa, pakaian, arsitektur, furnitur dan peralatan rumah tangga, kendaraan, tarian, alat musik, adat istiadat, permainan... semuanya nampak sangat diperhatikan, dihidupkan kembali, dan ditampilkan secara apik sepanjang film ini berlangsung.
Sungguh apresiasi budaya yang luar biasa.
Dedikasi tim untuk menghadirkan semua aspek budaya tersebut dalam film ini dapat dilihat dari video behind the scene ini
Selain keindahan budaya Jawa yang ditonjolkan di film ini, menarik mempelajari perbedaan budaya yang begitu mencolok antara zaman Kartini dan zaman sekarang. Berbagai unsur feminisme yang progresif ditampilkan bersitegang langsung dengan budaya paternalistik yang telah mengakar kuat di sebagian besar negara Asia, termasuk di Indonesia. Sesungguhnya hal inilah yang menjadi dasar pembuatan film Kartini ini.

Hal-hal yang mungkin tidak terbayangkan di zaman sekarang namun kenyataannya benar-benar terjadi di masa Kartini seperti, 'perempuan hidup hanya untuk menikah dengan lelaki yang bukan pilihannya sendiri, dan tidak peduli sebagai istri keberapa', 'harus jadi bangsawan supaya bisa belajar', 'perempuan harus dipingit ('dikurung' di rumah) sejak menstruasi pertama', dan sebagainya.

Seperti dilansir di The Jakarta Post, Sutradara Hanung Bramantyo menyatakan bahwa ia mendedikasikan film ini untuk para pria Indonesia. Hanung berkata bahwa proses pembuatan film ini ikut membantunya belajar cara yang baik dan sepantasnya dalam memperlakukan wanita, jadi ia berharap para pria dapat memahami wanita lebih baik lagi setelah menonton film ini.


Kartini: Sosok Panutan

"Pendidikan satu-satunya cara yang dapat mengubah cara pikir mereka."
-R.A. Kartini
Menonton film ini tentunya membuat kita semua kagum akan sosok seorang Kartini, baik dari keteguhan maupun karakter pribadinya yang sangat layak dijadikan panutan banyak orang.

Pertama, Kartini menunjukkan sifat yang bersemangat, aktif dan berinisiatif.
Mengingat situasi dan kondisi saat itu yang sangat tidak kondusif bagi seorang perempuan, sikap Kartini tersebut boleh dibilang sangat modern dan berani. Seperti teori 'The Secret', ia membuktikan bahwa 'ada kemauan, ada jalan'. Semakin ia mengobarkan semangat, semakin banyak orang yang mau membantunya, dan semakin menyebar pengaruh positifnya ke orang-orang di sekitarnya.

Bertolak belakang dengan kakak lelakinya yang mencibir, "Mendingan juga porselen, keramik Cina, jas Eropa. Ukiran kampungan begitu mau kamu kirim ke Belanda, memang ada yang mau?", Kartini memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Ia turut memajukan industri ukiran kayu Jepara ke mata internasional. Ia bahkan tercatat pernah berujar, ”Saya sakit hati kalau barang-barang yang sangat indah itu menjadi milik orang-orang yang acuh tak acuh, yang tidak dapat atau sekurang-kurangnya tidak cukup menghargai barang-barang itu...” (Kartini, Pembaharu Peradaban, 2010).
Di fim ini, Kartini juga tampil sebagai seorang negosiator ulung. Ketika para pengukir enggan menerima pesanan ukiran dari Kartini karena pada masa itu terdapat mitos bahwa mengukir wayang dapat mendatangkan bencana,  Kartini berkata, "Aku sing nanggung dosa'ne, pak". Kartini bicara tulus dengan bahasa pengukir itu, tanpa argumentasi panjang atau memakai bahasa elit-elit, atau bahkan mencemooh kepercayaan pengukir tersebut. Para pengukir akhirnya mau mengerjakan pesanan Kartini, dan sesuai harapan, pesanan terus berdatangan dan hingga saat ini Jepara terkenal dengan ukiran kayunya.

Bentuk lain dari apresiasi adalah pemahaman. Dalam adegan dimana terdapat acara pengajian keluarga, Kartini nampak menghampiri ulama di akhir pengajian tersebut. Sifatnya yang penuh rasa ingin tahu dan selalu ingin belajar membuatnya ingin mengerti lebih dalam mengenai arti dari ayat-ayat Al-Quran yang dibawakan oleh sang ulama. Kartini lantas meminta Kiai Saleh - sang ulama untuk menterjemahkan ayat-ayat tersebut ke dalam bahasa Jawa dan dibukukan. "Banyak orang merasa sudah cukup puas hanya bisa membaca dalam bahasa Arab saja, tanpa tahu makna dan artinya," sang ulama menjawab. Namun Kartini tidak putus asa, ia tetap meminta sang ulama untuk merealisasikan keinginannya, hingga pada akhirnya sang ulama menghadiahkan kitab yang sudah jadi tersebut sebagai hadiah pernikahan Kartini (sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/01/m1s0xf-kiai-muhammad-saleh-darat-semarang-guru-para-ulama-dan-ra-kartini).

Terakhir, sikap hormat dan sayang orang tua juga merupakan sikap yang sangat saya kagumi dari Kartini. Dalam salah satu prasyarat pernikahannya dengan bupati Rembang, ia menyebutkan, "Saya ingin Yu Ngasirah (ibu kandung Kartini) tidak lagi tinggal di rumah belakang, tetapi tinggal di rumah depan. Dan saya ingin semua putra dan putri romo (sebutan untuk ayah Kartini) memanggil Yu Ngasirah dengan 'Mas Ajeng' (sebutan lain untuk 'ibu'), bukan 'Yu' lagi".

Warisan paling berharga dari Kartini menurut saya tak lain adalah kisah hidupnya sendiri yang sangat inspiratif, dan hal ini dirangkum dengan amat baik dan menarik dalam film Kartini karya Hanung Bramantyo ini.
Saya rasa film ini patut ditonton oleh semua orang, terutama remaja yang sedang mencari jati diri. Karena bahkan sampai sekarang pun, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang, bukan saja perempuan, yang tidak berani menyuarakan pendapat atau bahkan mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri. Entah itu karena tekanan sosial maupun tekanan dari dalam diri sendiri. Kartini, melalui film ini seolah berbicara dan membakar semangat kita untuk terus menyuarakan pendapat dan memperjuangkan hak-hak yang seharusnya kita peroleh.

Saya tutup tulisan ini dengan beberapa kutipan inspiratif dari R.A. Kartini:
"Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri."

"Saat membicarakan orang lain, Anda boleh saja menambahkan bumbu, tapi pastikan bumbu yang baik."

"Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama?

"Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai."


"Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri."

Thank you so much for reading and see you guys on my next post! 

X
Jessica Yamada

March 31, 2017

What Does 'Charming' Mean To You? | Bagimu, #MemesonaItu Apa?

When you hear the word 'charming', what do you see in your mind?
//
Saat kamu mendengar kata 'memesona', apa yang terlintas di pikiranmu?
It could be anything from a stunning smile, confident personality, caring gestures to... well, anything based on your personal outlook about the word.
//
Senyum yang menawan, karakter yang penuh rasa percaya diri, sikap yang menunjukkan kasih sayang, ...bisa jadi apapun, tergantung dari persepsimu mengenai kata 'memesona' tersebut.


To me, when I hear the word 'charming',
especially when it comes to describe a female,
I see a financially independent woman.
//
Menurutku, ketika aku mendengar kata 'memesona',
terutama saat menggambarkan kaum hawa,
aku melihat sosok perempuan yang mandiri secara keuangan.


Big, full credit to THIS woman:
//
Pengaruh terbesar dari mama:
Mom - circa 1990. Yup, when she was exactly my current age!
 I remember seeing her at work, in her 'career woman' outfit: blazer, trousers, heels and all. I couldn't find a picture of her wearing all that (too bad there's no Instagram back then, else there might be a hashtag #FifiWears 😁), but there was something about that attire that says she's a smart, confident, trustworthy, professional woman who knows what she's doing and where she's going (she's all that, but the clothes were just 'reconfirming' it). Fascinated, I remember thinking to myself that, "A career woman looks so cool! Someday I wanna look like that! All those clothes, PLUS driving in a red convertible!"
//
Aku ingat melihat mama saat bekerja, mengenakan segala atribut 'wanita karir' nya: blazer, celana panjang, sepatu hak tinggi, dan sebagainya. Sayang tidak ada fotonya (coba kalau Instagram sudah ada dari dulu, mungkin ada hashtag #FifiWears 😁), tapi ada sesuatu dari setelan pakaian tersebut yang mengatakan bahwa wanita ini cerdas, percaya diri, dapat dipercaya, profesional, tahu apa yang dia mau dan langkah selanjutnya yang akan dia ambil (mama memang sudah seperti itu, tapi penampilannya seperti 'mengkonfirmasi ulang' hal-hal tersebut). Terpesona, aku ingat saat itu aku berpikir, "Wanita karir keren banget! Suatu hari aku mau terlihat seperti itu, pakai semua baju itu PLUS sambil nyetir mobil merah dengan atap terbuka!"

My childhood perspective of a 'successful career woman' // 'Wanita karir yang sukses' menurut Jess waktu kecil 😂😂😂
Talking about image, notice that I said, "I wanna LOOK like that"? That's because as a kid, I only saw what's projected on the surface. I did not know for sure what it really means to be a career woman (or a self-employed / businesswoman / etc., but whatever the job is:)
//
Bicara soal penampilan, kamu sadar gak aku bilang, "Aku mau TERLIHAT seperti itu"? Itu karena saat aku kecil, aku hanya melihat bagian luarnya saja, tanpa benar-benar mengerti apa arti sebenarnya dari menjadi seorang wanita karir (atau wanita yang bekerja sendiri / pengusaha / dsb. Intinya, apapun pekerjaannya:)


It means to work and earn her own money.
To be financially independent.
And THAT's the essence of the look.
//
Artinya adalah bekerja dan menghasilkan uang sendiri.
Menjadi mandiri secara keuangan.
Dan ITULAH esensi dari penampilan tersebut.


That's what makes it look 'charming' to me, even now. Not saying that work attire should always be like that (as a person who work in creative department, I should know this best. Heck, I even work in shorts or pyjamas sometimes 😅), but the image just sticks, and so I'm embracing it altogether in this post.

//
Hal itulah yang membuat penampilan tersebut 'memesona' untuk aku, bahkan sampai aku dewasa sekarang ini. Bukannya mengatakan bahwa pakaian kerja harus melulu seperti itu yah (sebagai orang yang bekerja di bidang kreatif, tentuya aku paling mengerti soal hal ini. Kadang saja aku bekerja sambil mengenakan celana pendek atau piama 😅), tapi citra dari pakaian itu sangat melekat di pikiranku, jadi sekalian saja aku pakai di post ini, mumpung lagi pas topiknya hehe.
Me, overdressed for my job 😂 | Location: SRSLY Coffee
Why 'financially independent', you ask, 'that's so specific'.
//
Mungkin kamu bingung. Kenapa harus 'mandiri secara keuangan', itu kan 'sangat spesifik'.


It's because to me,
being financially independent
feels very liberating.
It means you're on your own.
It means you can buy whatever you want.
But you can choose not to.
It means you have options.
And it's a very priceless feeling,
having the privilege of choice.
//
Karena menurutku,
menjadi mandiri secara keuangan
terasa sangat membebaskan.
Artinya kamu sudah berdikari.
Kamu dapat membeli apapun yang kamu mau.
Dan di saat yang bersamaan,
kamu dapat memilih untuk tidak membelinya.
Artinya kamu punya pilihan.
Dan perasaan itu tak ternilai harganya,
memiliki hak istimewa untuk memilih.


My answer here on ask.fm should describe it better:
//
Mungkin jawaban ask.fm aku ini bisa lebih menggambarkan soal itu:

So, let's go back to the first question:
"When you hear the word 'charming', what do you see in your mind?"
//
Jadi, yuk coba kita kembali ke pertanyaan awal:
"Saat kamu mendengar kata 'memesona', apa yang terlintas di pikiranmu?"

Location: SRSLY Coffee
This article is a submission for a blog competition under the theme #MemesonaItu.
If you want to join:
- Create a blog post and tell your story about #MemesonaItu
- Visit http://bit.ly/blogmemesonaitu
- Click ‘ceritakan sekarang’ and register your entry before April 10th, 2017
There are 2 mirrorless cameras as the main prize, 5 MAP vouchers worth IDR 1,000,000, and many more attractive prizes waiting for you!
//
Artikel ini aku buat untuk kompetisi blog yang diselenggarakan dengan tema #MemesonaItu.
Bagi kamu yang mau ikutan:
- Blog mengenai #MemesonaItu versi kamu
- Klik ‘ceritakan sekarang’ dan daftarkan link blog kamu sebelum 10 April 2017
2 orang pemenang utama akan mendapatkan kamera mirrorless, 5 orang pemenang akan mendapat Rp 1.000.000 voucher MAP, dan masih banyak hadiah menarik lainnya. Yuk ikutan, aku tunggu ya!


Thank you so much for reading and see you guys on my next post! 

X
Jessica Yamada

Masque Maison Kefir Mask Review

Hey guys! The product I'm about to review today is 'masker kefir' a.k.a. facial mask that is made from fermented goat milk. If you're into beauty products (or simply exposed to Instagram online stores on daily basis), I'm pretty sure you've heard about this kind of mask because it's pretty popular right now.

Kefir masks from @masque.maison


The Product

The ones I've tried and am going to review are these two:
the charcoal kefir mask & the original kefir mask.

Bubble wrapped..

..and sealed for your protection! 💋
P.S. Since they're made of fermented milk, you gotta keep them refrigerated always, ok!


My Review

Let's start with the Original Kefir Mask! I wrote a mini diary for both masks actually haha, here's the original one's:
May 2nd (night)1st time wearing it. Skin condition: super bad with small acnes, especially on left cheek. First impression of the mask: smells like cheesecake. After rinsing it off, skin becomes pretty red (similar to sunburnt skin), maybe because the mask also acts like a scrub when you rinse it off.
May 5th: After religiously using it morning and night, this morning I skipped using it because I got to run to campus for group assignment. When I washed my face, my skin is really in super super bad condition. At night when I washed it, there's this underground(?) acne on my left cheek (the painful one that's gonna stay for a pretty long time wth) & small acne on top of my lips. Keep calm and use the mask again at night.
May 6th: When I washed my face this morning, the left cheek's acne became smaller already, and by nighttime, the upper lip's acne is totally gone. To be fair, I always use on-the-spot acne cream as well, but still, normally, the acnes won't dry out this fast.
May 7th: The cheek acne is getting smaller, skin texture is nicer, smaller pores..
May 8th: Nice skin texture. Smaller pores, acne scars look better. Every time I wash my face after using the mask, my skin would always feel softer, bouncy, moist, less oily.

Moving on to the Charcoal Kefir Mask!
June 21st (morning): 1st time wearing it. Skin condition: oily, a bit dull with some small acne / whiteheads on forehead, cheeks. Btw this mask has super strong unpleasant odor. T_T
June 23rd (morning): 2nd time wearing it. There's a pustule (acne with white centre) on the chin.
June 24th (night): All zits are dried out, seriously no bumps at all. But skin is still oily.
- - -
August 23rd (night): 1st time wearing it again, there are acnes.
August 24th (morning): Use the mask again. Btw the acnes got better already and skin became more matte.
August 26th (morning): After religiously using it morning and night, last night I fell asleep with it! When I washed my face this morning, I was really shocked because my skin looks so much better hahaha. Smaller pores, a lot less bumps, dry skin (too dry actually).
August 27th - 29th: Acnes keep coming back, no matter how many times I use the mask. I think this time it's out of the mask's league because it's hormonal acnes.


CONCLUSION 
Not bad, huh? I'm actually loving the result from both masks, especially the charcoal one because I think it works better than the original, and every time I used it, my skin became less oily, even though the effect doesn't last that long (damn you oil factory skin). They do work for my acne-prone skin, but last time after I came back from Europe (end of August 2016), I got horrible whole-face acne situation and as you can read up there, even the charcoal mask couldn't help it. Maybe it doesn't work for hormonal acnes (I'm guessing the Aug '16 acnes are hormonal, triggered by hours in the sun with full make up on during the trip), but well, the masks work when they work, as I mentioned on my mini diary. 😁
Anyway, if you're interested to try them, you can order here:

Thank you so much for reading and see you guys on my next post! 

X
Jessica Yamada

Skin Whitening Pills, Does It Work? | Gluta Pancea Review

I'm quite skeptical (yet somehow intrigued) when it comes to products with plenty of promises.

So when a client asked me to review this product, I poured her a lot of questions to answer my doubts (and confirmed it by googling around) before I finally decided to try it out, such as:
🤔 Me: Is it safe?
Client: Yes, it has GMP, FDA & Halal certificates.
🤔 Me: Any negative side effects?
Client: No, and so far there are no complaints from customers.
🤔 Me: Does it give permanent result?
Client: Yes, you can stop using it after 1-2 boxes or when you've achieved the desired result. But during & after that, you should keep using sunblock when you're leaving your house & it's sunny outside. (Yay, I do that all the time now ^^ #LongTermInvestment -J)


The Product


Meet Gluta Pancea, a skin brightening product from Thailand. Its name was Gluta 'Panacea', but now it has changed to Gluta 'Pancea' due to misuses of the name 'Panacea'.

Packaging and ingredients:

↑ click to enlarge pic ↑


My Review

After the first box (1 month), I felt a slight change on my skin tone, but veeerrrrry slightly. So before I continued with the second box, I googled and found that you can take the capsules twice a day to boost the result. I asked the client and she confirmed it so I did it then. After that (1,5 month later), I still didn't notice anything different until last week when I was going to take a shower, I put my arm on my tummy out of curiosity, and that's when it hit me: my arms, which were darker than my tummy, now has the same level of brightness with it! 😱

I think it's quite a shocker because even though I'm a religious sunblock user now, my arms' skin tone has always been darker than my tummy's, thanks to years of driving, school outdoor exercises, etc. before I came to enlightenment *pun* that I need to use sunblock on daily basis to protect my skin tone, as well as to protect it from the harmful UV rays (which can cause ageing, burning and even skin cancer). 😳

Other than that -despite Gluta Pancea's various claims, I don't really see or feel anything different. So, don't get your hopes up, but if you still decide to try it, I recommend you to get it from Pang (IG: winkwhite_ceo) because believe it or not, there are tons of fake products out there and I've painstakingly made sure that she distributes the original product directly from Thailand. 😂👍❤️

Thank you so much for reading and see you guys on my next post! 

X
Jessica Yamada